SURABAYAHEBAT.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Australia memperkuat kemitraan dalam manajemen risiko bencana melalui Program SIAP SIAGA. Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan antara Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan perwakilan Pemerintah Australia di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (15/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Khofifah menegaskan pentingnya penguatan kesiapsiagaan masyarakat hingga tingkat desa dan kecamatan melalui pelibatan relawan yang terlatih. Menurutnya, keberadaan relawan menjadi salah satu indikator penting dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi potensi bencana.
“Sebuah desa tidak bisa disebut Desa Tangguh Bencana bila tidak ada relawan terlatih di kecamatan dan desa,” ujar Khofifah.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem mitigasi bencana yang efektif dan berkelanjutan.
Selain penguatan sumber daya manusia, Khofifah juga mendorong pembentukan Lumbung Sosial di Desa Tangguh Bencana. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting untuk menjamin ketersediaan logistik, peralatan darurat, serta kebutuhan dasar masyarakat saat terjadi bencana.
Dalam kesempatan itu, Khofifah turut menyoroti pentingnya pengembangan program Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA). Menurutnya, pondok pesantren perlu memiliki kapasitas mitigasi yang memadai mengingat banyak pesantren berada di wilayah yang memiliki potensi risiko bencana.
“Pesantren perlu diperkuat juga ketangguhannya dalam menghadapi bencana. Relawan dari pesantren ya dilatih, bagaimana menyiapkan mereka agar menjadi tangguh. Lalu, akan diujicoba di pesantren mana pelatihan itu,” katanya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa pesantren memiliki tingkat kerentanan tersendiri ketika terjadi bencana karena para santri dan tenaga pengajar tinggal serta beraktivitas dalam jangka waktu lama di lingkungan tersebut.
“Baik santri maupun pengajarnya tinggal menetap dan belajar dalam jangka waktu lama di area pesantren. Mereka berpotensi terdampak bencana,” ujarnya.
Sementara itu, Head of Sub-National Programs Program SIAP SIAGA, Deswanto Marbun, mengapresiasi dukungan dan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam pengembangan program pengurangan risiko bencana tersebut.
Menurut Deswanto, sejumlah masukan strategis yang disampaikan Gubernur Khofifah menjadi penguatan penting bagi implementasi program ke depan, terutama terkait pelibatan seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat desa dan kecamatan.
“Ibu Gubernur memberikan berbagai masukan. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah perlunya melibatkan seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat kecamatan dan desa agar respons terhadap bencana lebih efektif dan tepat sasaran,” katanya.
Di sisi lain, Plt. Wakil Konsul-Jenderal Australia di Surabaya, Will Lee, menegaskan bahwa kerja sama penanggulangan bencana merupakan salah satu simbol kuat hubungan bilateral Indonesia dan Australia yang telah terjalin selama ini.
Ia mengingatkan kembali kolaborasi kedua negara dalam penanganan kebakaran hutan besar di Australia pada 2019 sebagai contoh nyata pentingnya kerja sama lintas negara dalam menghadapi bencana.
“Pengalaman itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Australia sangat penting,” ujarnya.
Melalui penguatan kemitraan dalam Program SIAP SIAGA, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Australia berharap kapasitas mitigasi, kesiapsiagaan, serta respons masyarakat terhadap bencana dapat semakin meningkat sehingga risiko dan dampak bencana dapat diminimalkan. (TMO)






